Iklan Halaman Depan

Thursday, March 10, 2022

Inilah Alasan Mengapa Banyak Menggunakan Sistem 3 Phase untuk Kelistrikan

Listrik AC dan DC
Kelistrikan secara umum dapat dibagi menjadi 2 jenis menurut sifat dari gelombangnya, yaitu: 
- listrik AC (Alternating Current) ataupun dikenal dengan arus bolak-balik
- listrik DC (Direct Current) ataupun dikenal dengan arus searah. 

Pada sistem listrik AC terdapat 2 jenis sistem yaitu:
- 1 fasa
- 3 fasa.

Tegangan AC (Alternating Current)/bolak-balik
AC merupakan singkatan Alternating Current, yakni listrik yang memiliki arus sistem bolak-balik. Hal ini karena listrik seperti ini memiliki bentuk gelombang sinusoidal. Artinya yaitu listrik ini memiliki polaritas yang selalu berubah-ubah yang terjadi antara kutub positif maupun negative.

Pengertian 1 Phase / Fasa Tunggal
Di dunia sistem kelistrikan, untuk listrik AC terdapat 2 sistem listrik yang diketahui yakni sistem 1 phase ataupun yang biasanya disebut single phase serta sistem 3 phase. Tegangan 1 phasa yakni sistem instalasi listrik yang memakai dua buah kabel penghantar yakni 1 kabel yang difungsikan sebagai phasa serta 1 kabel difungsikan untuk netral.

Di Indonesia, untuk sistem 1 phase memiliki tegangan 220VAC. Sedangkan di berbagai negara lainnya, untuk besar tegangan pada 1 phase ini sangat bervariasi.

Pengertian 3 Phase / 3 Fasa
Untuk dapat memenuhi kebutuhan suplai daya listrik, maka sistem 1 phase yang terus dikembangkan menjadi sistem 3 phase. Sistem ini memakai 3 gelombang sinusoidal. Setiap sudut gelombang memiliki perbedaan sudut phase yang masing-masing derajatnya adalah 120 derajat. Berikut ini merupakan gambaran terkait gelombang sinusoidal.



Di Indonesia, terdapat sistem 3 phase yang umumnya telah diterapkan di seluruh sistem jaringan listrik yang dilayani oleh perusahaan listrik mulai dari sistem pembangkitan higga sistem distribusi yang dapat dilihat di depan rumah para pelanggan.

Pelanggan listrik perumahan yang memiliki daya dibawah 3500VA, maka akan menerima sistem aliran listrik dengan system 1 phase yang memakai 2 penghantar yakni kabel phase dan kabel netral. Sedangkan untuk pelanggan listrik daya yang statusya berada di atas 3500VA, maka apakah hal itu perumahan ataupun industri, maka akan memperoleh aliran listrik sistem 3 phase dengan memakai 4 kabel penghantar yakni 3 kabel penghantar sebagai phase dan 1 kabel penghantar sebagai netral.

Sistem 3 phase yang dipakai PLN memakai sistem tegangan 380V. Namun terdapat pula industry yang memiliki pembangkit sendiri yang memakai sistem tegangan:
- 400VAC, 
- 480VAC,
- 690VAC.


Hubungan bintang (“Y” atau star)
Ciri khas dari suatu hubungan star yaitu simbol yang mirip dengan suatu huruf alphabet Y (dilihat terbalik). Pada sistem rangkaian bintang/star, maka mempunyai titik tengah (yakni untuk hal ini adalah x), yang umumnya dihubungkan dengan suatu kabel penghantar Netral.

Jika tegangan kerja pada sistem 380VAC, maka bisa diartikan:

Tegangan Phase to phase
  • Titik a – c: 380VAC,
  • Titik a – b: 380VAC,
  • Titik c – b: 380VAC.


  • Tegangan Phase to netral
  • Titik a – x: 220VAC,
  • Titik b – x: 220VAC,
  • Titik c – x: 220VAC.


  • Berikut ini merupakan gambaran dari sistem rangkaian star/bintang:
    Dalam hubungan sistem bintang, apabila hambatan ataupun beban listriknya terjadi seimbang (yakni antara beban arus Ra = Rb = Rc) serta disuplai dengan sistem tegangan listrik yang besarnya sama, maka akan memperoleh pula arus phase yang sama serta akibatnya untuk titik “X” yang telah dihubungkan ke kabel penghantar netral akan memiliki arus nol.

    Hubungan Delta
    Ciri khas dari suatu hubungan sistem delta yaitu symbol segitiga. Untuk rangkaian sistem delta tidak ditemukan titik tengah sebagai suatu pusat/netral. Jika titik-titik ujungnya yang diukur, maka hal ini akan terjadi pengukuran phase to phase. Apabila tegangan kerja pada 380VAC, maka bisa diartikan bahwa:

  • Titik a – c: 380VAC,
  • Titik a – b: 380VAC,
  • Titik c – b: 380VAC.


  • Berikut ini merupakan gambar rangkain delta:
    System 3 phase yang diterapkan dimulai dari sistem generator, motor listrik, sistem transmisi, transformer/trafo, power distribution/distribusi tenaga.

    Mengapa harus sistem 3 phase?
    Sistem 3 phase ini dikembangkan karena mempunyai suatu keunggulan yakni daya yang akan ditransmisikannya mampu lebih besar jika dibandingkan dengan kondisi sistem 1 phase dengan konstruksi besar penghantar maupun besar arus listrik yang dialirkan adalah sama. Karena itu mulai dari sistem pembangkitan hingga sistem distribusi, untuk sistem 3 phase ini dipakai.

    Pada motor listrik, maka sistem 3 phase akan memberikan daya torsi pada motor yang akan lebih besar jika dibandingkan dengan sistem motor 1 phase. Dengan kondisi medan magnet berputar dan telah menghasilkan sistem listrik 3 phase dengan arah maupun kondisi besaran secara konstan yang telah disederhanakan, maka juga akan menyederhanakan kondisi disain ataupun bentuk konstruksi dari motor listrik.

    Penggunaan Warna Kabel 3 Phase
    Secara keseluruhan, untuk sistem 3 phase memiliki 4 penghantar/kabel, yakni: 3 kabel untuk urutan phase L1, L2, L3 serta kabel netral. Jika terdapat peralatan elektronik, maka akan ada kabel 1 lagi sebagai grounding/pentanahan/pembumian. Pemakaian warna kabel ini sudah diatur oleh sistem standar nasional maupun internasional. Berikut ini merupakan rangkuman dari table yang telah mengatur warna coding/kode warna dari kabel.



    Itulah pemahaman dasar terkait kondisi sistem 3 phase serta beberapa standar yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk menentukan warna dari kabel enurut fungsinya. Secara umum, kita memakai PUIL untuk acuan nasional. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat sistem instalasi listrik yang memakai standar international untuk instalasi listriknya, yang sesuai dengan kondisi permintaan para penggunanya.

    BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

    Halaman Berikutnya